Senja Yang Tak Kunjung Datang



semburat jingga dilangit senja membuatku harus kembali tersadar dimana posisiku saat ini. Dimana mata yang selama empat tahun terakhir ini harus memandang disetiap senja. Mengingat bangku putih penghias jembatan ditaman ini yang meninggalkan seberkas harapan dan seribu magnet untukku. Untukku untuk harus berada disini setiap senja. Karna apa? Karna aku menunggu.
Untuk ketiga kalinya aku menghela nafas. Kubuka mataku perlahan-lahan. Yah, masih sama seperti hari-hari sebelumnya, kura-kura itu benar-benar lambat untuk sampai disini. Dengan berat hati, kusunggingkan senyumku disenja hari ini. Berdiri dan mengambil tas jingga kecil dan note yang juga setiap senja menemaniku. Sebelum beranjak, aku kembali melihat sosok kakek yang mengenakan tas kecil dan bertopi rotan yang yang juga selama ini selalu berdiri di atas jembatan menghadap kearah danau. Entah, apakah dia sama halnya denganku. Yang juga menunggu kehadiran seseorang ?aku tak berani bertanya.
“Adira.” Yah, suara lembut menghentikanku setelah selangkah beranjak dari bangku dipinggir danau.
“kamu adira, kan ?” sekali lagi suara itu terdengar jelas dikupingku. Sebenarnya jauh dilubuk hati, ada suara yang kutunggu selama empat tahun ini menyapaku seperti tadi. Tapi lupakan. Siapa dia ? dengan perlahan aku memalingkan wajahku ke samping kiri. Disana berdirilah sosok seorang pria yang jelas jelas kuingat dengan jelas memoriku. Bayangan wajahnya sama sekali tak ada yang berubah sejak empat tahun yang lalu. Bedanya, kini dia tambah tampan. Diluar dugaanku.
“wahyu ?” tanyaku, lebih tepatnya untuk memperjelas apakah dia benar orang yang kukenal. Dia tersenyum. Senyum yang selama ini tak pernah lagi kulihat. Dia melangkah mendekat. 10 detik kemudian, kini dia sudah tepat berada dua langkah didepanku. Kemeja hijau yang ia kenakan benar-benar menambah porsi ketampanannya.
Kembali kutatap wajahnya lamat-lamat. Mata elangnya jelas terlihat. Seperti empat tahun lalu. Yah, empat tahun yang lalu saat ku masih berseragam abu-abu.
                                                ***
“kamu kenapa sih wahyu ? itu kan cuma semut. Gak perlu dibesarin gitu kan masalahnya ?” ujarku dengan nada yang mulai mengeras.
“iya, tapi gara-gara semut itu es teh aku tumpah Adira,” suara Wahyu tak kalah kerasnya.
Aku hanya menggeleng. Wahyu benar-benar terlalu kekanak-kanakan. Hanya karena semut yang menggigit telapak tangannya membuat es teh yang sedari tadi ia minum menjadi tumpah. Kini, kami berada di bawah pohon di belakang sekolah. Tempat yang selalu menjadi tempat kami untuk beristirahat setiap jam lowong.
Aku dan Wahyu kini telah resmi berpacaran hampir 2 tahun ini. Proses jadian yang beanr-benar tak pernah kami duga sebelumnya. Mos yang dilakukan sewaktu kami hendak masuk disekolah ini, membuat kami akhirnya menjalin hubungan sampai saat ini, di bangku kelas 2 SMA. Karena aku dan wahyu terlambat sewaktu hari pertama mos, maka senior yang menahanku di gerbang sekolah yang ternyata adalah ketua osis mengharuskan aku dan wahyu mengaku untuk berpacaran sampai satu bulan kedepan. Benar-benar menjadi hari sial bagiku di hari pertama berseragam abu-abu.
Hal yang tak pernah disangka, semuanya justru jauh lebih seru. Hubungan kami yang diketahui oleh semua orang awalnya memang membuat risih, tetapi di hari terakhir masa aktif hubungan kami, Wahyu justru memintaku untuk memperpanjang masa aktifnya. Dan di bawah pohon inilah dia mengatakan hal yang sebenarnya juga aku tunggu-tunggu.
“apa pulsa aku cukup untuk memperpanjang masa aktif hubungan ini ?” tanyanya sambil memegang salah satu tanganku.
Wajahku memerah, aku memutuskan untuk menunduk dan mengangguk perlahan. Bisa kurasakan bagaimana waktu itu wahyu menambah eratan genggamannya dan salah satu tangannya membuat tinju yang menandakan ‘yes’. Dan hubungan kami akhirnya sampai saat ini. Terlalu naif rasanya jika aku tidak mengatakan bahwa selama ini aku dan wahyu selalu bahagia. Pertengkaran-pertengkaran yang terjadi diantara kami hanya bertahan satu sampai dua jam. Dan setelahnya ? kembali lagi layaknya romeo dan Juliet.
“lupakan mengenai semut. Tadi kak Fatur manggil aku loh,” ucapku sambil menghadap ke langit-langit dan tersenyum. Jujur aku salah satu fathurholic. Aku fans berat sama kak Fatur. Cowok yang merupakan dalang aku dan Wahyu bisa menjalin hubungan sampai sekarang.
“lalu ?” ujar Wahyu dengan cueknya. Dia sama sekali tak pernah marah ataupun melarang aku bercerita tentang kelebihan-kelebihan Kak Fatur. Secara, mereka adalah saudara sepupu.
“dia katanya mau ajak kamu ketemuan nanti malam,” ujarku.”apakah, kamu memutuskan untuk selingkuh dengan kak Fatur setelah selama ini bareng sama aku ? apa kamu Gay ?” ujarku dengan memperlihatkan wajah yang oon sedunia. Secara reflex, Wahyu langsung menjambak rambutku. Yah pertengkaran dimulai.
Sudah seminggu setelah pertemuanku dengan wahyu yang membahas mengenai kak Fatur dulu. Dan sudah seminggu ini pula Wahyu tak pernah datang ke sekolah dengan alasan sakit. Jangan katakan aku adalah pacar yang gak berbakti dengan tidak menjenguknya. Sewaktu hari pertama sakit, Kak Fatur lah yang memberikan aku surat sakit wahyu dan menyampaikan wasiat wahyu kalau gak mau dijenguk sama aku. Jujur waktu aku diberi surat itu, aku sama sekali gak mikirin wahyu yang lagi sakit, justru aku langsung terhipnotis dengan hidung mancung, senyuman manis, dan body yang perfect berdiri dihadapan. Terlalu mubazir jika aku menyia-nyiakannya. Sebenarnya aku gak bersyukur kalau Wahyu sakit, tapi semenjak wahyu sakit selama seminggu ini justru kak Fatur yang selalu menemaniku.
Lonceng neraka telah berbunyi. Saatnya upacara bendera. Aku berdiri dari kursiku dan kemudian melangkah untuk keluar dari kelas. Saat hendak melewati pintu, tiba-tiba wangi farfum itu tercium olehku saat seorang laki-laki lewat didekatku. Yah itu Wahyu. Dia sudah datang sekolah. Benar-benar rasanya ingin langsung memeluknya. Aku pun kembali kedalam ruangan dan menuju kesampingnya. Tapi, hey! Dia tidak menyimpan tasnya di dekat bangkuku seperti biasa. Tanpa pikir panjang, akupun mendekatinya yang justru malah memilih tempat duduk di pojokan. Langsung kurangkul lengannya.
“hey, Wahyu!” ujarku dengan nada yang paling manja.
“lepasin,” ujarnya sambil menyentakkan tangannya yang kurangkul. Aku terperanjak melihat kelakuannya barusan. Bagaimanapun pertengkaranku dengannya, dia tak pernah berperilaku kasar seperti itu sebelumnya. Tiba-tiba dia berhenti berjalan didekat pintu.
“setelah upacara, temui aku di tempat biasa,” ujarnya tanpa membalikkan badan sedikit pun.
Ada apa ini ? waktu upacara benar-benar lambat. Rasanya Bapak Suparman memberikan nasihat 1 abad. Sudah tak sabar rasanya aku kebawah pohon belakang sekolah mendengar pernyataan Wahyu. Apakah dia marah karena aku tidak datang menjenguknya ? bukannya dia sendiri yang meminta kak Fatur untuk memberitahuku agar tidak menjenguknya.
Upacara pun selesai, tanpa menghiraukan panggilan teman-temanku, akupun berlari menuju ke pinggir danau. Disana sudah ada Wahyu yang berdiri dengan headset di telinganya. Suara langkahku mungkin menyadarkannya bahwa aku telah ada disampingnya. Bola matanya hanya melirikku sebentar saja. Dia kembali memandang danau yang tenang.
“kamu kenapa ? tanyaku ragu.
Dia melepaskan headsetnya dan berbalik kehadapanku. “Kita Putus.” Ujarnya dengan santai. Kata-kata yang langsung membuat detak jantungku berhenti berdetak untuk ikut serta mendengar pernyataan barusan.
“apa ?” tanyaku, masih kurang percaya dengan apa yang barusan lewat di daun telingaku.
“kamu gak denger ? atau pura-pura gak denger ? kita PUTUS,” ujarnya yang kemudian melangkah. Namun sebelum langkahnya semakin menjauh, aku memegang lengannya. Langkahnya terhenti.
“tapi kenapa ?”aku kembali bertanya dengan sebutir air mata pertama yang turun karena Wahyu.
dia kemudian berbalik dan menghadap kedepanku. “aku bosen, udah satu tahun lebih kita barengan. Tiap hari kita selalu aja kayak tom dan jerry. Bertengkar. Lagian, apa kamu gak ingat bagaimana kita bisa sampai bisa kayak gini ? semuanya karena kesalahan. Hubungan kita udah merupakan kesalahan sejak awal.” Ujarnya yang kemudian menepiskan peganganku dilengannya. Kurasakan kulit ari yang berada dijemariku terlepas. Dan itu adalah yang terakhir kalinya aku menyentuh kulit Wahyu. Untuk yang terakhir kalinya aku bisa sedekat itu dengan Wahyu. Untuk yang terakhir kalinya aku berbincang dengan Wahyu.
Jangan Tanya bagaimana keadaanku untuk satu minggu kemudiannya. Aku mogok makan. Mogok sekolah. Dirumah, aku hanya terus berada di kamar dan menatap bingkai foto antara aku dan wahyu yang diambil saat kami di mos dulu. Semua bentuk kegalauanku berakhir saat mama mengatakan bahwa aku kedatangan tamu cowok. Awalnya aku tak peduli. Tapi saat kudengar suara yang sering datang dimimpiku menyebut namaku di balik pintu kamar terdengar, aku bangkit dan membuka pintu kamar doraemonku.
“Kak Fatur ?” ujarku dengan wajah yang paling oon sedunia.
Dia tersenyum. Tiba-tiba kurasakan rambutku di belahan kanan tersentuh oleh jemari kirinya. Dia mengusap rambutku dengan lembut. “jika kamu percaya bahwa cinta yang sebenarnya tak akan membuat air mata ada, maka kamu tak akan seperti ini.”
Kata-kata itu, benar-benar membuatku tenang. Aku bingung bagaimana ia mampu menghipnotis saraf-sarafku untuk mengganti pakaian dan keluar berjalan-jalan bersamanya. Dia mengajakku kepinggir danau dekat taman yang berada di tiga blok dari rumahku.
“sebegitu berharganya Wahyu untuk kamu ?” pertanyaannya memulai percakapan kami di bangku putih ini.
Aku tersenyum tanpa mengubah arah pandanganku, tetap di air danau yang tenang. “aku pasti akan terbiasa kok kak dengan keadaan ini. Maklum, dia adalah cinta pertama aku.” Ujarku yang kemudian menunduk. Entah bagaimana aku bisa melontarkan kata-kata itu. “dia memang benar, hubungan kami sejak awal merupakan suatu kesalahan. Tapi entahlah. Aku bingung ada apa dengan dia ? kenapa dia baru menyadari sekarang ? kenapa gak dari dulu aja. Sekarang kan aku….” Saat itu ucapanku terhenti dan diganti oleh isakan. Yah, hujan kembali di atas pipiku.
Tangan yang sedari tadi kuremas-remas tiba-tiba tergenggam oleh tangannya. Secara perlahan membuatku berhenti terisak. “menangislah Adira. Sepuasnya. Tapi setelah ini,” sebelum melanjutkan ucapannya dia membalikkan badanku menghadapnya. Membuat kedua mata kami saling beradu pandang. “setelah ini, aku gak pengen ada lagi air mata yang jatuh di pipi kamu. Dan aku janji, bakalan bantu kamu untuk kembali lagi.” Ada apa ini ? seseorang yang begitu kukagumi kini berlaku begitu baik kepadaku. Setauku, wahyu tak pernah menceritakan kepada kak Fatur bahwa aku mengaguminya. Dia sudah berjanji akan hal itu. Benar-benar aneh. Namun sebelum aku berpikir yang tidak-tidak, tiba-tiba dia merangkulku. Tak dapat kupungkiri, aku butuh rangkulan itu untuk mengembalikanku seperti semula. Dan, kak Fatur berhasil.
Hari ini, aku berada disekolah setelah satu minggu absen karena Wahyu. Pagi ini, kak Fatur menjemputku. Jelas saja, para fathurholic menganga sambil berbisik kiri dan kanan saat melihat kak Fatur mengantarku sampai kedepan kelas. Dan sebelum dia pergi, dia menyempatkan diri untuk mengacak rambutku terlebih dahulu. Dikelas aku sudah terbiasa tanpa teman yang menyapaku. Karena dulu, selalu ada wahyu, yang menurutku sudah lebih dari cukup.
Aku kembali duduk ditempat dudukku seprti dulu, namun disini pasti aku tak akan punya teman sebangku. Namun, sampai lonceng tanda jam pertama akan dimulai aku belum melihat batang hidung wahyu. Apa dia sakit ? atau jangan-jangan dia terlambat ? tapi kok terlambat ? dia kan selalu datang lebih dulu dari pada aku. Huhh,, lupakan. Tegasku dalam hati sambil menutup mata hingga seorang guru baru bahasa inggris datang. Dia bernama Pak Andi, dia menggantikan Ibu Hj. Asni yang sudah pensiun. Dia pun memulai untuk mengabsen kami.
“Adira syafana muhtar,” sebut sang guru.
“Yes, Sir.”
“Wahyu dikram,”
“pindah, Sir.”
Bukan main, pernyataan anak-anak di dalam kelas membuatku mendongak. Pindah ? sejak kapan ? dimana ? hatiku kembali kacau. Sebelum pak andi memulai pelajaran aku sudah tak sanggup lagi berada di dalam kelas. Aku berlari keluar kelas menuju pohon di belakang sekolah. Aku menangis.
“aku sudah tahu kamu pasti akan kesini,” tiba-tiba suara itu membuatku berhenti menangis.
Kak Fatur langsung memelukku. “aku akan membuat ini adalah tangisan terakhirmu untuk wahyu. Kali ini aku mohon, jangan pernah tangisi dia lagi.”
Memang pedih, tak dapat kupungkiri hal itu. Tanpa ada surat, wasiat, atau semacamnya sebagai salam perpisahan dari kami. Kini, dia benar-benar pergi tanpa alasan yang jelas. Hari-hariku benar kelabu. Tapi, sosok Kak Fatur perlahan-lahan membuat pelangi kembali muncul. Setiap hari dia menjemputku untuk pergi ke sekolah. Mengantar sampai didepan kelas. Mengacak rambut. Jam istirahat, dikantin. Kali ini, bukan lagi dibawah pohon, seperti rutinitasku sebelum-sebelumnya. Dan jam pulang, selalu dijemput didepan kelas. Aku rasa, dia berhasil menghapus kelabu itu.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Telah enam bulan sejak Wahyu mengakhiri hubungan kami. Kini, aku akan kehilangan kak Fatur. Dia telah lulus. Di hari kelulusannya, dia mengajakku ke taman yang ada didekat rumahku. Tempat yang menjadi tempat pembuka sekaligus penutup pertemuan kami.
“Adira, mungkin aku akan lanjut diluar kota. Tapi kamu gak usah khawatir. Kamu udah berhasil.” Ujarnya sambil menggenggam tanganku.
“maksud kamu ?” tanyaku yang masih belum mengerti dengan kalimat terakhirnya.
 “kamu berhasil, membuat gembok untuk hati aku. Jadi hati aku gak bakalan kemana-mana. Kamu harus percaya itu. Tapi, apa aku bisa percaya sama kamu kalau kamu akan berlaku sama seperti aku ?”
Tersenyum. Hanya itu yang bisa kulakukan. Disusul oleh anggukan dariku.
“sebenarnya ada hal yang ingin kukatakan, tapi tunggu dulu aku beli es cream sebentar.” Ujarnya. Namun, sebelum ia meninggalkan tempat duduknya, dia kembali menatapku lamat-lamat. Satu tangannya menggenggam tanganku dan satu tangannya lagi memegang pipiku. “kamu akan nunggu aku kan untuk jelasin semuanya ?” aku mengangguk. “aku sayang kamu Adira. Itu berlaku selamanya.” Lalu dia beranjak pergi. Dan ternyata itu adalah pertemuan terakhir kami.
Setelah hampir setengah jam aku menunggu, tiba-tiba seorang anak kecil mengantarkan satu es cream untukku beserta buku kecil yang berwarna jingga. Aku bingung dengan anak kecil itu. Aku tahu dari siapa es cream ini. Namun, dia tidak menjawab pertanyaanku kemana orang yang menitipkan es cream ini. Maka kubuka note kecil itu. Tulisan indah tertera didalamnya.
Untuk Adira-ku.
Kamu udah janji untuk menunggu aku kembali. Kembali dan menjelaskan semuanya. Yah semuanya! Aku harap kamu menepati janjimu. Maaf, aku harus pergi! Tunggu aku disetiap senja, bersama note jingga ini. Tulislah apa yang kamu lakukan setiap harinya. Anggaplah kamu berbicara padaku. Aku pergi hanya untuk kembali lagi. Suatu saat, aku akan datang bersama salah satu senja. Dan melihat apa kamu benar menunggu aku menjelaskan semuanya!
Jaga dirimu Adira. Aku menyayangimu.
                                                                                                                                Fatur
Sepertinya aku terjatuh hampir sama seperti di lubang sebelumnya. Kenapa dia pergi dengan cara seperti ini ? sungguh mengenaskan kisahku. Dan aku selalu menepati janjiku. Setiap senja aku selalu datang bersama dengan note jingga pemberiannya dan menulis semua yang kulakukan setiap hari. Aku selalu menunggu kapan dia akan datang menjelaskan semuanya. Dan entah apa itu. Dan setiap senja aku datang, juga selalu ada seorang kakek  di taman itu. Semoga saja, kisahnya tak semengerikkan kisahku.
                                                ***
“udah lama yah kita nggak ketemu. 4 tahun. Dan ternyata selama itu, kamu gak berubah banyak,” ujar Wahyu.
“kamu juga,” hanya itu balasanku.
“bagaimana kabarmu ?”
“selalu baik, kamu ?”
“baru beberapa detik yang aku merasa baik-baik saja,” ujarnya.
Tak kumengerti apa maksudnya. “emmm,,,,” sebenarnya aku ingin menanyakan kak Fatur kepada Wahyu. Tapi rasanya tak enak. Mengingat keduanya adalah saudara sepupu. Dan bagaimanapun juga, Wahyu adalah orang yang pernah mengisi hari-hari indahku.
“tentang Fatur ?” tiba-tiba dia berucap. Lama sekali nama itu tak kudengar terucap.
“dia diluar negeri, aku datang kesini untuk memberikan FD ini.” Dia menyerahkan sebuah flashdisk jingga. Aku mendongak. Mungkin dia tahu makna tatapanku.
“buka sendiri isinya, aku sama sekali tak pernah membukanya.” Ujarnya dengan santai.
Setelah menerima fd itu aku pamit pulang. Sampai akhirnya dia memanggilku.
“Adira,” aku pun berbalik mendengar punggung namaku terucap. “kamu semakin cantik,”. Terdengar aneh bagiku.
Sesampai dirumah, kubuka layar laptop toshibaku dan ku ambil fd jingga pemberian wahyu tadi. Disitu terdapat file yang bertuliskan ‘untukmu Adira’. Segera ku buka word itu.
Untukmu Adiraku sayang..
Sudah lama sekali aku tak kunjung datang bersama senja yang kamu tatap setiap hari. Tak ku sangka ternyata kamu menepati janjimu. Mungkin Karena kamu aku bisa bertahan lebih lama dari perkiraan. Tapi sayang, aku tak bisa bertahan untuk melihatmu secara langsung. Penyakit ini menggerogoti organ organku. Maafkan aku, Adira. Sebenarnya, aku sakit. Aku keluar negeri bukan untuk melanjutkan kuliahku. Tapi aku pergi untuk berobat. Leukemia yang menyerangku membuat usiaku terancam. Namun, saat-saat bersamamu membuatku sadar aku harus bertahan. Jadi aku pergi, agar aku bisa kembali lagi. Namun, tuhan berkehendak lain. Saat ini, ragaku sudah tak ada di bola bumi ini. Aku benar-benar pergi Adira. Maaf karena aku tak bisa kembali membawa es cream yang ku janjikan. Mungkin kamu merindukanku. Sama halnya dengan diriku. Namun bedanya aku selalu bisa melihatmu setiap hari ditaman itu menungguku. Melihatmu menulis dan menunggu dan menatap jam tanganmu. Apa kamu lihat sosok kakek yang selalu ada di atas jembatan danau ? itu adalah orang suruhanku. Dia mempunya tas kecil. didalam tasnya ada kamera yang menghubungkanku denganmu. Sehingga aku bisa melihatmu lebih lama. Maaf, karena suatu hari note kamu hilang. Sebenarnya, aku yang meminta kakek itu untuk mengambilnya dan mengirimkan apa yang sudah kamu tulis. Jadi, aku tetap tahu apa yang terjadi denganmu. Maafkan aku!
hal yang sebenarnya ingin aku jelaskan adalah suatu kebenaran tentang wahyu. Masih ingat 4 tahun yang lalu ? saat aku memintamu untuk memberitahukan wahyu bahwa aku mengajaknya ketemuan malam itu. Sebenarnya disitu, aku membicarakan keinginanku untuk memilikimu. Sejak awal mos, aku sudah mulai jatuh hati kepadamu. Tapi aku gak yakin. Jadi kuputuskan agar kamu dan wahyulah sebagai awal agar wahyu bisa mengkorek informasi tentangmu selama sebulan. Dan ternyata wahyu malah menembakmu dan melanjutkan hubungan kalian. Awalnya aku mengikhlaskan hal tersebut. Namun setelah aku divonis dengan penyakit ini aku memutuskan agar sebelum meninggalkan masa abu-abuku, aku bisa menikmatinya dengan orang yang kusuka. Dan semua hal tersebut kunyatakan kepada wahyu malam itu juga. Awalnya wahyu menolak untuk melepaskanmu. Namun, setelah lama berpikir akhirnya dia menyerah. Dan disitulah aku tahu bahwa ternyata kamu juga mengagumiku. Jangan tanyakan bagaimana perasaanku waktu itu. Nah setelah itu, wahyu tidak datang ke sekolah selama seminggu. Dia memang sakit Adira. Tapi hatinya. Tak kau lihat bagaimana kondisi Wahyu saat itu, jauh lebih mengenaskan dari kondisimu saat aku datang menjengukmu. Dan sebenarnya hanya aku yang mengarang cerita bahwa Wahyu tak ingin dijenguk olehmu. Aku takut Wahyu akan berubah pikiran setelah melihatmu datang menjenguknya. Dan saat dia kembali ke sekolah, dia memutuskanmu. Setelah itu, dia mendatangiku dan memintaku untuk menjagamu. Dia memberikan kertas yang berisi semua hal tentangmu. Dan saat itulah pertama kali aku melihat Wahyu menangis dihadapanku.  setelah mengetahui bahwa sudah seminggu kamu tidak kesekolah, dia memutuskan untuk pindah sekolah. Tak kuasa melihatmu yang akan terus menderita. Aku mengetahui semua ini gara-gara aku. Tapi, jujur egoku benar-benar tinggi untuk memilikimu.  Dan setelah semua ini terjadi, kini aku tahu waktuku sudah tak banyak lagi. Kuminta wahyu untuk kembali menemanimu seperti dulu.
Maafkan keegoisanku Adira, maaf telah membuat kalin harus terpisah. Membuat kalian menjadi sakit. Tapi mulai sekarang, lupakan tentang senja. Sudah selesai waktumu untuk menunggu aku datang bersama senja. Terima kasih Adira untuk semuanya. Maafkan aku yang tak bisa kembali untukmu. Kembalilah bersama Wahyu. Dialah sejatinya perasaanmu. Disudut sana, aku dan tuhan akan menonton drama kalian. Berbahagialah Adira. Dan tetaplah ketahui, bahwa aku selalu menyayangimu, hingga aku bersama malaikat akan menuju ke samping tuhan selamanya.
Aku menyayangi pelangi yang kubuat setelah kelabu yang kuwarnai. Namun sejatinya pelangi itu hanyalah ada di awal. Hanya goresan pena rongsokan yang kulukiskan untukmu. Dan kini, waktunya warna itu luntur selamanya.
                                                                Dari yang mecintaimu, Fatur.
Drama seperti apa yang aku jalankan sekarang tuhan ? bahkan drama korea sekalipin tak ada yang semenyedihkan seperti ini. Kembali kehilangan. Sosok yang tak pernah kusangka-sangka sebelumnya.  Air mata kembali berlinang.
Keesokan harinya, masih tetap disenja itu. Aku masih berharap semuanya adalah mimpi buruk. namun kini, sosok kakek tua itu telah tidak ada lagi seperti biasanya. Note kecil yang kutulis pun telah penuh oleh ceritaku. Mungkin, kak Fatur memang telah memastikan semuanya. Semuanya kembali hampa seperti semula.
“es cream?” suara itu memecahkan lamunanku.
Wahyu datang sambil menyodorkan es cream untukku. Aku menerimanya. Kini dia duduk ditempat terakhir kali kak Fatur duduk. Hampir tiga puluh menit suasana terasa kosong. Hingga akhirnya dia menggenggam tanganku. Aku berbalik menatapnya, namun dia tetap memandang kedepan sambil tersenyum.
“sudah waktunya, aku kembali mengaktifkan masa periode yang terputus selama 4 tahun ini,”. Ujarnya tanpa mengubah pandangannya.
Mungkin, sudah saatnya pelangi yang asli akan terukir kembali setelah selama ini merelakan posisinya unutuk pelangi yang hanya singgah untuk sementara. Bagaimana pun juga aku selalu menyanyangi pelangi. Pelangi yang hanya sementara dan entahlah kedepannya. Apakah aku akan kembali mengukir pelangi yang sejati.  Hanya tuhan yang mampu memakai kacamata masa depan.

Komentar

Postingan Populer