Idola Yang Tertukar



Entah karena apa, langkahku memutuskan untuk memasuki ruangan ini. Ruangan yang sudah beberapa tahun ini tak pernah ku masuki lagi. Bukannya tak mau. Tapi ketakutanku untuk mengingat masa lalu yang sudah kukubur sejak cincin di hari ijab kabulku terpasang empat tahun silam membuatku tak berani lagi melangkah masuk dalam ruangan yang kujuluki ‘ruang kenangan’.
Beberapa minggu ini, aku lebih banyak memiliki waktu untuk sendiri di rumah. Waktu yang tak ingin ku alami. Sendiri, membuatku selalu ingin masuk ke dalam ruangan yang telah kususun rapi jauh-jauh hari sebelum pernikahanku dimulai. Namun, karena kesendirianku di ruang keluarga ini membuatku kembali sesak dengan ingatan masa lalu.
Kupegang gagang pintu itu dengan ragu. Menghela nafas. Kueratkan genggamanku lalu kuputar 180 derajat hingga pintu itu terbuka. Ruangan sempit yang sesak kini terlihat. Penuh dengan beranda photo, album dan buku. Butuh waktu lima belas menit hingga aku akhirnya berada di dalam ruangan pengap ini.
Kutatap foto yang telah kususun. Satu rak penuh dengan foto yang telah terbingkai kecil. dan disamping kiri dan kananku tergantung puluhan foto yang berukuran lebih besar. Ukiran foto yang berdasar putih abu-abu. Moment-moment dimana saat pembuatan film, pembuatan madding, porseni, perayaan maulid, perayaan ulang tahun setiap bulannya, dan yang terakhir adalah moment kelulusan kami.Sahabat-sahabatku. Aku merindukan mereka.  Sedangkan, disudut bawah rak terdapat satu album biru. Album yang berisi tentang satu orang. orang yang menyebabkanku selalu merasa bersalah selama 4 tahun ini. Suatu kesalahan karena aku merindukannya.
Aku melangkah menuju rak yang ada dihadapanku. Kusentuh album biru itu yang kini telah mengusam lagi. Kembali kutarik tanganku. Tak berani. Namun, karena kerinduan masa-masa itu membuatku akhirnya mengambil album itu dari lokasinya. Kubersihkan jahitan debu di sampulnya. Setelah itu, kubuka perlahan album itu. Rasa sesak mulai menghadang. Dengan perlahan-lahan sampul buku itu telah berganti dengan sebuah foto lelaki yang mengenakan kaos hitam panjang dan bercelana jeans cream berlatar belakang pantai losari. Kutatap lamat-lamat sosok yang kini terpantul di retinaku. aku tersenyum. Benar-benar wajah yang membuatku berdosa selama ini. Aku merindukannya. 10 tahun telah berlalu tanpa ada komunikasi sama sekali. Dibawah foto itu tertera namanya dengan indah ‘Muhammad Rezky Nur’.
“dia jadiannya sama siapa ?” Tanya Vibell.
“Jadiannya kapan ?”tanyaku.
“ditembak langsung atau lewat sms ?”Tanya Vibell lagi.
disaat mulutku menguap hendak melanjutkan pertanyaanku, Shilla langsung menutup mulutku dan Vibell secara bersamaan. “Kalian Kepo banget sih. Mau jadiannya sama siapa itu urusan mereka dong,” ujar Shilla dengan ketusnya. “kalau mau tau cari tahu aja sendiri, jangan Tanya sama aku lagi. Males ladenin makhluk Kepo. Dasar Nurul kuadrat.” Ujar Shilla yang langsung pergi meninggalkan aku dan Vibell di koridor sekolah.
“nyebelin banget sih Shilla, datang pagi pagi disekolah bawa kabar kalau Chika udah punya pacar baru. Pas ditanya malah dibilang kepo. Siapa coba yang nggak kepo. Salah satu temen sekelas kita yang baru putus 4 hari sama pacarnya udah langsung punya pacar baru. Kita mau tahu dong siapa sih cowok yang cepet banget buat chika cepet move on, dasar..” ujar Vibell sambil berkacak pinggang dengan kecepatan berbicara 360 km/detik.
Perkenalkan, dia adalah Nurul Viola beliana. Biasa dipanggil Nurul dan juga biasa di panggil Vibell singakatan dari Viola Beliana. Dia adalah salah satu partner aku dalam hal kekepoan. Kecepatan berbicaranya melebihi kecepatan berbicara guru fisikaku. Dia jomblo. Dan masuk kedalam geng kejombloanku bersama dengan Raka dan Keyla. Sebenarnya Keyla udah nggak nge jomblo lagi sekarang alias Alumni dari geng kami yang diberi nama ‘Mbloh 3K (Kece~Kere~Kepo)’.
“Nurul,,,,,,,,,,” teriak sahabatku yang mengambil jurusan ilmu social di sekolah ini. Namaku terdengar lantang dikoridor sekolah. Rita sebagai mantan duta parawisata melangkah dengan anggun menuju ke arahku. Dia menyerahkan baju yang sudah ia pinjam beberapa hari yang lalu.
Yah, Namaku Nurul. Nurul Keisya Polana dan disesuaikan dengan rutinitasku dengan Vibell setiap paginya yang selalu mencari hot news disekolah maka namaku disingkat dengan ‘Nurul Kepo’. Cocok dengan nama lengkap dan rutinitasku selama ini. Aku lebih tinggi daripada Vibell, tapi harus ku akui warna kulitku lebih cerah dibandingkan dengan Vibell yang mengikuti ekskul berlambangkan tunas kelapa. Aku dan Vibell sering dipanggil dengan Nurul kuadrat dalam hal kekepoan. Namun sebenarnya di dalam kelas ada tiga orang yang punggung namanya adalah Nurul, salah satunya adalah Andi Nurul Khatimah. Dia penggemar salah satu pemain basket andalang yang bernomor punggung 22 di sekolah muara bakti.
Pagi ini, kekepoan kami memuncak saat salah satu temanku yang bernama Chika tenyata telah punya pacar baru setelah empat hari yang lalu putus dengan Dana. Hubungan mereka berakhir setelah dijalani selama dua tahun lebih. Antenna kekepoan kami memuncak pagi ini saat mendengar kabar dari Shilla yang gaje itu. Namun, saat kami saling bertanya-tanya Vibell akhirnya mengutarakan kecurigaannya.
“kamu inget nggak,  waktu kita syuting di air terjun minggu lalu ? Chika deket banget sama Fajar. Sampai-sampai mereka selalu barengan waktu ke lokasi. Fajar aja pinjemin jaket ke Chika pas malam hari dan waktu tengah malam mereka berduaan loh di teras rumah dan ……………” belum sampai Vibell mengutarakan kecurigaannya, tiba-tiba angin yang lewat disampingku langsung berhenti saat dua sosok makhluk lewat sambil berbincang-bincang dengan santainya.
Yah, itu adalah Chika dan Fajar. Mataku langsung beralih ke Vibell saat pemandangan itu telah berlalu. Kami beradu pandang. Dan ternyata, kecurigaan Vibell telah tertanda check list. Artinya Benar. Dalam hitungan ketiga kami berdua berjalan menghadang keduanya yang telah berjarak lima langkah dari kami.
“cie, cie yang udah pacaran,” ejekku dan Vibel secara bersamaan. Inilah cara kami untuk memancing kebenarannya. Dan tiba-tiba Fajar langsung merangkul Chika dari  belakang tanpa memperdulikan kami yang terus menganga di belakang mereka. Hal itu terhenti saat seekor lalat memasuki mulutku. Dan yah, Vibell hanya tertawa dan meninggalkanku yang berurusan dengan lalat sialan ini.
Bel tanda masuk telah berbunyi. Dari kejauhan aku melihat sosok guru fisikaku yang berjalan dengan kecepatan halilintar. Aku mengejar Vibel yang tak hentinya tertawa. Saat diajang pintu, Vibell berhenti. Entah karena apa padahal guru fisika sudah hampir dekat kami. Saat aku menghadap ke dalam kelas. Pemandangan yang kurang mendukung suasana hati Vibell terlihat. Yah, Rian. hubungan mereka berakhir setelah minggu lalu kami selesai syuting. Masalah yang sebenarnya ingin aku kepoin namun urung demi menghidarkan kondisi Vibell yang akan murung nantinya.
Pantatku tiba-tiba sakit. Satu pukulan mendarat disana. Dan ternyata Vibel juga mengalaminya.
“Nurul, orang yang memukul pantat kita dalam hitungan ketiga, kamu pengen dia, aku jadiin bakwan atau tahu isi ?” Tanya Vibell dengan angkuhnya tanpa berbalik. Dia mulai menghitung, “satu, dua, tiga”. Kami berbalik secara bersamaan. Dan yah, jenggot yang pertama kali dituju oleh bola mataku. Itu pertanda bahwa dia bukanlah siswa. Dan dialah Pak Syura. Guru Fisikaku dengan penggaris di tangannya.
“Viola tadi pengen jadiin bapak apa ? Bakwan atau tahu isi yah ? ujar pak Syura dengan senyumnya yang tak manis sama sekali.
Vibel tertawa terpaksa, “bapak bercanda deh, tadi aku sama Nurul pengen hadiain bapak bakwan sama tahu isi kok,” ujar Vibell. Dan Pak syura tentu tahu bahwa itu hanyalah bualan Vibell semata. Aku hanya menggeleng. Kami dalam masalah. Tapi aku yakin, pak Syura tak akan berani menjewel telinga kami. Dia adalah satu-satunya guru disekolah ini yang tak mau menyentuh makhluk yang sejenis kami.
“oh begitu, berarti bapak salah dengar yah,” ujar Pak Syura.
“oh jelas Pak.” Dan bodohnya Vibell mengiyakan padahal itu hanyalah pancingan Pak Syura. Dasar otak udang.
“kalau begitu Bapak minta tolong sama Nurul kuadrat untuk membersihkan seluruh peralatan lab fisika. Mulai dari neraca sampai gelas-gelasnya, oke ?”
Dan yah secara tidak langsung, kami dihukum. Tertawaan terdengar didalam kelas kami.
“butuh bantuan mbloh ?” teriak Raka dan Keyla hampir bersamaan. Jangan Tanya mengenai ketulusan mereka. Mereka berdua hanya mengejek keberuntungan kami pagi ini karena tidak mengikuti pelajaran fisika karena harus membersihkan seluruh isi lab Pak Syura.
“Rian udah punya pacar baru yah ? Tanya Vibel yang sedang membersihkan neraca.
Aku tahu dia pasti menanyakan hal itu kepadaku . Karena kedekatanku dengan Rian yang telah aku kenal sejak smp sudah nyata baginya. “nggak tau, maybe belum.” Ujarku ketus.
“lo udah berani sms kak Fatur ?” ku alihkan pembicaraanku ke sosok yang Vibell kagumi sejak kami masuk sekolah ini. dia telah lulus tahun lalu. Dan perkenalkan dia, adalah mantan ketua osis terkeren disekolah ini.
Vibel hanya menggeleng. Aku pun turut menggeleng.
Baiklah kita flashback 12 jam yang lalu.
Suara handphone ku berbunyi disaat novel Billy sedang dalam pusatan bola mataku. Dengan rasa malas, ku raih hpku. Dan tertera nama yang selama ini ku tunggu di layar hpku. “MRN”. Dia kak Rezky.
MRN :Selamat Malam Nurul.
Dan yah, maaf Billy. Malam ini kamu tak menjadi pusat perhatianku lagi.
To MRN : Selamat malam, kak.
From MRN : bagaimana kabarnya dek ?
To MRN : baik kak. Kakak sendiri ?
From MRN : kurang baik dek.
Yah, basa basi berlangsung hingga akhirnya taka da topic pembicaraan lagi. Demi melancarkan komunikasi kami, aku meminta nomor handphone kak Fatur dengan alasan keperluan osis. Dan aku memberitahunya bahwa ada seseorang yang fans terhadapnya. Kak Rezky menanyakannya, namun demi menjaga privasi Vibell aku tidak memberitahunya. Namun aku berterima kasih kepada Vibell. Karena dengan meminta nomor kak Fatur membuatku bisa berlama-lama komunikasi dengan kak Rezky.
Dan kita kembali lagi di lab fisika bersama puluhan rak yang berisi peralatan yang sama di ruang kimia. Miris sekali melihat Vibel yang terkenal karena kecerewetannya, sama sekali tidak berani mengetik sms untuk kak Fatur. Sosok yang ia kagumi. Kak Fatur memang tampan. Aku akui itu. Sosoknya yang berwibawa dan bijaksana membuatnya tampak sebagai pemimpin yang bisa diandalkan. Dia mengenalku sebagai tetangga se kompleks. Dia orangnya lucu. Hidung mancung, mata elang, dan senyum manisnya membuat banyak orang yang mengaguminya. Namun, aku tidak termasuk kedalamnya. Bukan karena aku tidak suka. Tapi sepertinya, aku masuk ke jurang yang berbeda dengan Vibell. Aku mengagumi orang lain. Orang yang pertama kali kulihat di ekskul KIR. Orangnya lebih keren dan tidak serapi kak Fatur. Tapi pandanganku, Kak Rezky lebih tampan. Yah, dialah KAK MUHAMMAD REZKY NUR.
Awalnya hanya kagum. Dan dalam acara porseni tahun lalu, aku hanya iseng-iseng bersama dengan Shilla meneriaki namanya saat bermain volley. Dia pun mulai bercanda dan memasukkan kami berdua sebagai fansnya. Shila menanggapinya dengan bercanda. Namun aku tidak. Karena aku memang megaguminya. Lama kelamaan, dia memberikanku nomornya tanpa diminta. Dengan logat asal dia dilahirkan dia mengatakan bahwa seorang fans harus menghubungi idolanya. Butuh waktu dua jam hingga akhirnya aku mencoba untuk mengirimkannya pesan singkat. Dan sejak saat itulah kak Rezky sudah seringkali menghiasi layar inboxku setelah selama ini hanyalah telkomsel yang setia.
“Nurul, kok melamun ? mikirin kak Rezky yah ?” ujar Vibell.
“apa sih lo,” ujarku sambil menyembunyikan kepiting rebus diwajahku.
Setelah itu, kami kembali ke kelas. Kelas yang menurut beberapa guru adalah kelas terpintar di angkatan kami di jurusan ilmu alam. Padahal, aku lebih suka kelas ini dinyatakan sesuai dengan kenyataan bahwa kami kelas tergokil. Makhluk-makhluk didalamnya bervariasi. Laki-laki yang berjumlah 10 orang memiliki beberapa grup. Ada 3 macan yang gifo dan alay (Dilan, Raka, Fajar). Ada 3 belanda (Ari, Sahrul, dan Fikran). Dan ada juga cowok Bergen cewek, dialah Cantika alias Herdi. Lalu Rian, Fadil, dan Dion tak masuk kategori apapun. Sedangkan ceweknya, ada aku dan Vibel yang keponya selangit. Ada juga Chika yang hobi dandan, ada Wede yang hobbynya di doraemon, ada Shilla yang hebohnya selangit. Dan ada Nyul dan Ul yang tiap paginya selalu aja pengen pub dan masih banyak lagi.
Di kelas ini, sudah terkenal dengan struktur keluarga yang dibuat asal-asalan. Nilam sebagai ibu Raka, Nyul dan Firdha. Lalu Raka beristri dengan Shilla dengan anaknya Wede dan Fadil. Lalu Fadil pdkt sama Dian yang orangtuanya adalah Chika dan Fajar. Sedangkan Chika sepupunya adalah Vibell yang bersaudara dengan Dylan yang beristri dengan Firdha. Dan Vibell bercerai dengan Rian setelah punya anak yaitu Ame. Dan masih banyak struktur lainnya yang kami buat sebagai lelucon. Sedangkan aku ? punya 7 selingkuhan. Aku masuk juga sebagai parasite keluarga bersama dua Nurul lainnya.
Pulang sekolah aku kerumah Rika, sahabatku. Kami selalu kumpul berhubung sekarang kami sudah tak berada dalam satu kelas lagi. Ada juga Rita. Kami berbincang-bincang seperti biasa. Sampai, handphone ku berbunyi. Kuliat MRN tertera disana. Dia menelponku. Ingin rasanya aku mengangkat telpon itu. Namun, aku merasa tak enak. Sehingga ku biarkan terus berbunyi.
“kok nggak diangkat ?” Tanya Rika yang mungkin sudah bosan mendengar bunyi hpku.
“Gak penting kok,” berat sekali mengucapkan kalimat itu.
“kalau kamu nggak angkat, biar aku yang angkat,” ujar Rita dalam posisi hendak mengambil hp di sampingku. Dengan segera aku mengambil hpku dan mengangkatnya.
“Halo,” ujarku.
“kok baru diangkat ?” ujar suara di seberang sana.
“lagi sibuk,”
“jadi aku ngeganggu ?”
“iya,” waktu itu ingin rasanya kutarik doraemon Wede untuk memutar waktu. Kata ‘iya’ itu merusak segalanya. Aku terpaksa mengatakannya karena tak enak melihat Rika dan Rita yang sedari tadi memandang curiga ke arahku.
“kalau begitu kakak minta maaf,” suara itu parau.
“iya aku maafin. Jangan telpon aku yah,” ujarku sambil berupaya terlihat santai dhadapan sahabatku. Lalu aku mematikan telpon itu.
“dari siapa ?”Tanya Rita.
“Dylan.” Jawabku sekenanya.
Kami melanjutkan pembicaraan. Ragaku berada didepan Rika dan Rita. Namun pikiranku melayang. Aku yang sudah kuperbuat beberapa menit yang lalu ? sebuah kesalahan besar. Hanya karena aku tak ingin Rika dan Rita mengetahui siapa yang menelponku, aku merusak semua ini. dasar bodoh. Kepalaku langsung pening. Lama ku tahan untuk menghargai Rika dan Rita yang bercerita mengenai kisah asmara mereka. Sampai akhirnya aku meminta Rita untuk mengantarku pulang, yah sebuah kesalahan besar.
Hari ini, hari minggu. Namun aku harus tetap menuju ke sekolah untuk membuat madding. Dengan mood yang nggak baik aku memurungkan diri untuk mandi sebelum berangkat membuat madding. Sesampai disekolah, dengan senyum maksimal aku tampilkan sebagai cover untuk menutup keadaan hati yang sedah gundah gulana, ciahh lebay amat.
“Nurul, sekarang antar aku. Gak usah basa basi.” Ujar Vibel tanpa babibu langsung naik di motorku.
“mau kemana sih ?” tanyaku yang kesal kepada Vibell.
Lama menunggu jawaban, aku langsung mengerem motorku. Dan berbalik ke Vibel.
“kenapa gak dijawab sih ?” pertanyaanku akhirnya ku jawab sendiri. Dia menangis.
“kita ke bandara Nurul, sekarang.” Ujar Vibel yang masih menangis.
Aku tak berani bertanya. Aku langsung menancap gas motorku dengan kecepatan tinggi. Aku tak berani mengajak Vibell berbicara disaat seperti ini. dia menyebut bandara, berarti akan ada orang yang pergi. Dan sepertinya dia berharga bagi Vibell. Biasanya begitu kan kalau di FTV ? tapi siapa yah ? tidak mungkin orang tuanya. Karena orangtua Vibell sekarang, memang sedang ada diluar kota. Jadi siapa dong ?
Setelah sampai. Vibel berlari memasuki bandara. Aku menyusul dibelakangnya. Lama kami berlari, dia akhirnya menemukan seseorang yang ia peluk dengan koper besar disampingnya. Aku mengenal orang itu. Itu Shilla. Dia mau kemana ? untuk menahan tanduk kekepoanku muncul, aku pun mendekat. Shilla melepas pelukannya dengan Vibell.
“lo mau kemana ?” tanyaku.
“gue titip Vibel yah sama Chika. Jagain mereka.” Ujar Shilla sambil menatapku.
Ada apa ini ? Vibell dengan gigi kelincinya menangis dengan keras. Awalnya aku terharu melihat cewek tercerewet di sekolah menangis. Namun semakin keras, aku justru malu melihatnya. Ternyata Shilla akan pindah sekolah keluar kota bersama kedua orangtuanya. Kabar buruk. Vibel adalah salah satu sahabat Shilla. Mimpi mereka sebagai seorang pemilik perusahaan benar-benar lucu saat mereka mencontohkannya di dalam kelas untuk memulai sebuah rapat. Mereka berempat. Tapi tunggu dulu, Chika mana ?
“lo baik baik yah disana,” ujarku yang sok tegar.
Shilla mengangguk. “pasti,” ujarnya sambil tersenyum. “hey, kok lo masih nangis ? udahlah!” ujarnya lagi sambil memegang tangan Vibell. Bukannya berhenti, justru tangisnya meledak. Semua orang yang lewat berbalik menghadap kearah kami. Aku hanya menggaruk kepala dan berusaha menyembunyikan wajah. Shilla pun memeluk Vibel. Sambil memeluk Vibel, Shilla memberikanku sesuatu. Dana ku mengerti maksudnya.
Setelah 15 menit, Shilla pun berangkat. Untuk pertama kalinya, Vibell murung seperti itu. Setelah naik diatas motor, aku pun menancap gas menuju ke tempat penjualan teh poci. Setelah turun dan setelah aku memesan kepada seorang ibu-ibu yang muda dan ramah, aku pun duduk di ruang tunggu yang disediakan. Dan dapat kulihat wajah Vibell yang langsung cemerlang saat menyadari dimana kini ia berada. Dia langsung melihatku dengan tatapan bingung.
“shilla menyuruhku untuk mengantarmu kesini. Dan sekarang lihat siapa orang yang ada di teras rumah sebelah kirimu,” Vibel pun berbalik. Wajahnya tiba-tiba sumringang. Disana ada kak Fatur. Shila memberikanku uang sewaktu di bandara tadi dan menyuruhku mengantar Vibell kemari sebagai obat kegalauannya. Dan gak nyangka ternyata bisa semempan ini.
Ibu-ibu itu kembali lagi ke kami dan menyerahkan teh poci kepadaku. dan tak diduga, dia meminta nomor hpku. Dapat kulihat wajah vibel melotot. Cemburu.
“udahlah, lo nggak usah cemburu kayak gitu. Ibu gue sama ibunya kak Fatur itu temen arisan. So, dia minta nomor hp aku,” ujarku.
Keesokan harinya, Vibel langsung memelukku erat-erat di lapangan basket. Awalnya aku ingin menimpuknya dengan buku namun penjelasannya membuatku justru malah ikut bahagia. Dia akhirnya memberanikan diri menghubungi kak Fatur. Dan respon yang bagus. Namun, seminggu setelah itu kak Rezky menghubungiku setelah sekian lama mogok sms. Dan itulah saat dimana terakhir kalinya aku berhubungan dengannya.
“lo bohong sama gue.” Ucapnya diseberang sana.
“maksudnya ?”ujarku yang masih tak mengerti.
“lo bilang, ada seseorang yang fans sama Fatur waktu itu, lo inget kan ? ujar kak Rezky dengan nada yang Semakin meninggi.
“iya, emang.” Ujarku yang masih tidak mengerti arah pembicaraannya.
“oke, thanks. Gue salah nilai loh. Hapus nomor gue di kontak hp lo, begitu pun dengan gue. Gue kecewa sama lo, Nurul,” ujar kak Rezky yang langsung menutup telponnya.
Sesak. Hanya itu yang aku rasakan. Ada apa ini ? pasti ada kesalahpahaman. Vibel. Aku harus menceritakan semuanya. Aku langsung menghubungi Vibell. Sebelum aku yang berbicara, dia sudah lebih dulu berbicara dengan kecepatan tinggi.
“vibel, lo bisa pelan-pelan kan ?”
“oke, gue pelanin. Kak Fatur ngira gue adalah lo. Dan gue gak suka itu. Masih ingat kan waktu nyokap kak Fatur minta nomor lo ? sebenarnya kak Fatur yang sms nyokapnya untuk minta nomor hp lo. Dan sebelum dia hubungi nomor lo, gue lebih dulu sms dia. Dan dia ngira gue adalah lo,” ujarnya.
oh jadi ini masalahnya. Kesalahpahaman. Kak Rezky tahu kalau orang yang bernama Nurul mengirimkan sms kak Fatur. Dan kak Rezky mengira itu adalah aku. Apa mungkin dia cemburu ? segera kugeser pemikiran itu. Mungkin dia hanya kesal karena dia mengira aku telah berbohong.
Hari-hari selanjutnya, semua berubah. Vibell yang dulunya dekat sama aku, kini menjauh. Ku buka akun FBku, statusnya langsung terpampan di berandaku. ‘jangan sampai temen makan temen’. Langsung nyesek. Ditambah lagi, status berhubungan yang kubaca antara akun ‘Muh.Rezky’ dengan ‘Lilis Musdalifah’. Hari-hariku kacau setelah itu. Hari-hariku kelabu. Bahkan sampai acara kelulusan sekalipun. Bahkan kata-kata mutiara dari dion yang dulunya sering memotivasi, kini lenyap seketika. Lelucon yang sering dibuat Nyul bahkan tidak mempan sama sekali. Vibell meski kini mulai mencair saat kami kumpul 3K, namun kadang masih tetap terasa asing bagiku.
Tiga tahun setelah itu, semuanya bercerai berai. Tuntutan untuk melanjutkan pendidikan membuat kami jarang untuk bertemu satu sama lain. Dan dihari itu, saat aku janjian dengan Niken untuk nonton di bioskop, aku menyempatkan diri ke gramed terlebih dahulu. Dan saat itu, mataku tertuju ke seseorang. Seseorang yang selama ini tak pernah kutemukan lagi. Kak Rezky.
saat dia menatapku tiba-tiba seorang wanita langsung menghadang lengannya dan menariknya. Seakan-akan wanita itu ingin menunjukkan sesuatu. Dan wanita itu, aku juga kenal baik. Dia Vibell.
Lembaran biru itu telah tamat ku lihat. Semuanya telah berakhir. Ku alihkan pandanganku ke sebuah bingkai kecil. terpampang foto antara aku, Keyla, Raka, dan Vibell saat mengikuti ekskul renang dulu. Dimana kalian sekarang ?
“ternyata, kamu udah siap batin dengan ruangan itu,” suara itu menyadarkanku. Sosok yang selalu bersamaku selama 4 tahun ini sedang berada di ambang pintu dengan jas hitam dan dasi melorot. Namun, dia tetap terlihat tampan sama seperti sepuluh tahun lalu. Tetap sama seperti apa yang dulu Vibell Kagumi.
“bagaimana di pengadilan ? apa kamu berhasil ?” tanyaku yang langsung mendekat kearahnya dan mengambil tas yang ada ditangannya.
“oh jelas. Dengan pengacara yang bermodal tampan ini, akan selalu menang dipersidangan,” ujarnya dengan kegeeran. Kak Fatur memang selalu begitu. Tak pernah berubah.
4 tahun yang lalu, kak Fatur datang melamarku. Awalnya aku ingin menolak jika mengingat bagaimana kisah ku sewaktu putih abu-abu dulu. Namun, orang tuaku berkata lain. Sebagai seorang psikolog, aku sudah menafsirkan bahwa kak Fatur memang tulus terhadapku.
“nanti malam, ada acara reuni seangkatan aku, kita datang yah,” ujarnya.
Aku hanya mengangguk.
Malam harinya, aku telah siap-siap, begitu pun dengannya. Kami pun berangkat. aku berpikir, apakah kak Rezky akan datang atau tidak. Apakah aku akan bertemu dengannya setelah terakhir kali aku melihatnya saat di gramed dulu, itupun 5 tahun yang lalu. Setelah sampai, kami turun dari mobil. Kami pun memasuki restaurant yang telah didekor sedemikian rupa.
Kak Fatur pun bertemu dengan teman-temannya yang dulu. Ada yang sudah punya anak. Banyak yang mengasihani kami yang sudah 4 tahun menikah, sama sekali belum punya anak. Sampai akhirnya, tamu terakhir yang menyelenggarakan pesta datang.
“Rezky….” Panggil kak Fatur saat kak Rezky tiba sambil menggandeng lengan seorang wanita.
Kak rezky melambai kearah kak Fatur. Dan saat melihatku disampingnya, dia langsung tersenyum. Namun, sebutir air mata jatuh. Entah karena apa? Apa karena kak Rezky datang dengan menggandeng lengan Vibell yang dibalut oleh jilbab silver itu ?
Aku pikir, kami telah bertukar.


Komentar

Postingan Populer